Makalah Belajar dan Pembelajaran

Bookmark and Share


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Belajar merupakan proses aktif yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka membangun pengetahuannya. Belajar bukanlah proses pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru atau sumber-sumber lain. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran sangat diperlukan karena ia merupakan subyek utama dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran berhubungan dengan bagaimana membelajarkan peserta didik atau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah dan munculnya motivasi para peserta didik untuk mempelajari pelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam pembelajaran, bagi para praktisi pendidikan dituntut mengembangkan berbagai metode dan strategi untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat tercapai secara efektif, efisien dan menyenangkan.

Dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal maka diperlukan suatu konsep pembelajaran yang memadai dan relevan. PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dapat dijadikan metode alternatif dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif, efisien, menyenangkan dan jauh dari pembelajaran yang membosankan peserta didik.
B.     TUJUAN
1.        Untuk mengetahui hakikat belajar dan pembelajaran
2.        Untuk mengetahui prinsip belajar dan azas pembelajaran
3.        Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi proses belajar
4.        Untuk mengetahui teori belajar menurut pandangan para ahli
5.        Untuk mengertahui motivasi belajar
6.        Untuk mengetahui pendekatan atau model dalam pembelajaran
7.        Untuk mengetahui masalah-masalah dalam belajar
8.        Untuk menetahuii kondisi belajar mengajar yang efektif
9.        Untuk mengetahui konsep dasar evaluasi dan pembelajaran
10.    Untuk mengetahui pembelajaran dan pengembangan kurikulum


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, atau keinginan untuk merubah suatu kebiasaan yang belum maju ke arah lebih maju. Sementara pembelajaran adalah kegiatan timbal balik antara yang siswa dengan guru atau guru dengan siswa. Pembelajaran memberikan kesan saling belajar, saling berdiskusi dan saling memberi. Dengan kemajuan teknologi, boleh jadi anak didik tahu materi pelajaran yang mungkin belum diketahui oleh guru maka guru boleh juga bertanya kepada siswa atau meminta penjelasan dari siswa, juga sebaliknya sebagai tugas guru adalah mengajar (materi yang sesuai dengan tuntunan kurikulum pendidikan guna untuk memberikan pengetahuan baru kepada siswa). Selanjutnya, belajar merupakan kegiatan orang sehari‑hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar, dan dapat diamati oleh orang lain. Belajar yang dihayati oleh anak didik dan ada hubungannya dengan usaha pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik/guru. Pada satu sisi, belajar yang dialami oleh anak didik  terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang.
Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental dengan daya didorong oleh tindak pendidikan atau guru. Dengan kata lain, belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa guru. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring. Dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan hak asasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindak mendidik kegiatan guru yang memberikan materi ajar sesuai dengan kriteria persiapan guru. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan perilaku baik yang dikehendaki oleh aturan persekolahan sehingga menghasilkan anak didik yang berjiwa besar dalam dunia pendidikan sekaligus menjadi orang yang benar-benar berbudi dan berharga di mata masyarakat. Semua itu adalah produk dari olahan belajar dan pembelajaran yang dilakukan oleh para pendidik dalam mengembangkan anak didik ke arah yang berguna.  Dengan cara ini dipastikan bahwa anak didik mampu membekali diri dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang disertai akal dan budi luhur.
B.       PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN AZAS PEMBELAJARAN
Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan:
-          Perhatian dan motivasi,
-          Keaktifan,
-          Keterlibatan langsung/berpengalaman,
-          Pengulangan,
-          Tantangan,
-          Balikan dan penguatan, serta
-          Perbedaan individual.

1.      Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Motivasi adalah tenaga yang digunakan untuk menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi data merupakan tujuan pembelajaran.
2.      Keaktifan
Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain.
3.      Keterlibatan langsung/berpengalaman
Menurut Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4.      Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan-pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Pada teori psikologi Conditioning, respons akan timbul bukan karena oleh stimulus saja tetapi oleh stimulus yang di kondisikan, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah.
Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran.
5.      Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.
6.      Balikan dan penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari teori belajar ini adalah law of effectnya Thorndike. Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.
7.      Perbedaan individu
Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
C.      FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal . kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
a.    Faktor internal
Faktor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan factor psikologiss.
1.      Factor fisiologis
Factor-faktor fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu yaitu:

-          Keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang.
-          Keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mepengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula . dalam proses belajar , merupakan pintu  masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia dapat menangkap dunia luar.

2.      Factor psikologis

Factor –faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar yaitu

-          kecerdasan /intelegensia siswa
-          Motivasi
-          Minat
-          Sikap
-          Bakat

b.   Faktor eksternal

Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.
1.      Lingkungan social

-          Lingkungan social sekolah,
-          Lingkungan social massyarakat.
Lingkungan social keluarga. 

2.      Lingkungan non social.     

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;
-          Lingkungan alamiah
-          Factor instrumental
-          Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa)

D.      TEORI BELAJAR MENURUT PANDANGAN PARA AHLI

1.      Teori Belajar Menurut Watson

Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.

2.      Teori Belajar Menurut Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).

3.      Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).

4.      Teori Belajar Menurut Skinner

Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000).
E.       MOTIVASI BELAJAR
Pada diri si pembelajar terdapat kekuatan mental penggerak belajar. Perilaku belajar dilakukan oleh si pebelajar. Kekuatan mental yang berkeinginan, perhatian, kemauan atau cita-cita itu disebut motivasi belajar. Komponen utama motivasi tersebut adalah kebutuhan, dorongan, dan tujuan si pebelajar. Motivasi belajar sangat penting dipahami oleh siswa maupun guru. Beberapa ahli menitikberatkan  segi-segi tertentu dari motivasi. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder. Adapun sifat motivasi dibedakan menjadi motivasi internal dan eksternal. Disamping itu ada ahli yang membedakan adanya motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
Adanya pandangan beberapa ahli menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami, dan merupakan kekuatan mental dalam belajar. Dari siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa. Kemampuan siswa, kondisi siswa, kemampuan siswa mengatasi kondisi lingkungan negatif, dan dinamika siswa dalam belajar. Dari sisi guru, motivasi belajar  berada pada lingkup program dan tindak pembelajaran.
Oleh karena itu guru berpeluang untuk meningkatkan, mengembangkan, dan memelihara motivasi belajar dengan optimalisasi yaitu:
-          Terapan prinsip belajar
-          Dinamisasi perilaku pribadi siswa seutuhnya,
-          Pemanfaatan pengalaman dan kemampuan siswa,
-          Aspirasi dan cita-cita, serta
-          Tindakan pembelajaran sesuai rekayasa pedagogis.
F.       PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Guru profesional memerlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa berkebiasaan belajar sepanjang hayat (Pembelajaran seumur hidup). Pendekatan dalam pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam pengelolaan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Dalam belajar tentang pendekatan pembelajaran tersebut, orang dapat melihat
a.       Pengorganisasian siswa,
b.      Pembelajaran secara kelompok,
c.       Pembelajaran secara klasikal.
G.      MASALAH-MASALAH DALAM BELAJAR
Banyak ahli mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :
1.    Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain
-          Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma, dan sebagainya).
-          Ketidak seimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
-          Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
-          Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

2.    Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari
a.    Sekolah, antara lain :
-          Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
-          Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)
-          Metode mengajar yang kurang memadai
-          Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
b.    Keluarga (rumah), antara lain :
-          Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
-          Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
-          Keadaan ekonomi.

H.      KONDISI BELAJAR MENGAJAR YANG EFEKTIF
Seorang guru terlebih dahulu harus mengenal/memahami karakter siswanya dengan baik agar dalam proses belajar mengajar dapat memilih media yang baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu, sebaliknya tanpa minat tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaiatannya dengan sifat-sifat siswa, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif, seperti motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya (Usman, 2002:27). Minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keefektifan belajar siswa. Jadi, unsur efektif merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (James dalam Usman, 2002:27).

I.         KONSEP DASAR EVALUASI DAN PEMBELAJARAN

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Tujuan utama evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, taraf perkembangan, atau taraf pencapaian kegiatan belajar siswa.
Tujuan khusus evaluasi pembelajaran adalah :
1.      Mengetahui kemajuan belajar siswa
2.      Mengetahui potensi yang dimiliki siswa
3.      Mengetahui hasil belajar siswa
4.      Mengadakan seleksi
5.      Mengetahui kelemahan atau kesulitan belajar siswa
6.      Memberi bantuan dalam pengelompokan siswa
7.      Memberikan bantuan dalam pemilihan jurursan
8.      Memberikan bantuan dalam kegiatan belajar siswa
9.      Memberikan motivasi belajar
10.  Mengetahui efektifitas mengajar guru
11.  Mengetahui efisiensi mengajar guru
12.  Memberikan balikan pada guru
13.  Memberikan bukti untuk laporan kepada orang tua atau masyarakat
14.  Memberikan data untuk penelitian dan pengembangan pembelajaran.

J.        PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh setiap guru, selalu bermula dari dan bermuara  pada komponen-komponen pembelajaran yang tersurat dalam kurikulum. Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru merupakan bagian utama dari pendidikan formal yang syarat mutlaknya adalah adanya kurikulum sebagai pedoman. Proses pembalajaran akan selalu berpedoman pada kurikulum. Guru dapat dikatakan sebagai pemegang peranan penting dalam mengimplementasian kurikulum, baik dalam rancangan maupun dalam tindakannya.
1.      Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan wahana belajar-mengajar yang dinamis sehingga perlu dinilai dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat (Depdikbud, 1986:1) Pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Bond dan Wiles (1989:87) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum yang terbaik adalah proses yang meliputi banyak hal yakni:
a.       Kemudahan-kemudahan suatu analisis tujuan,
b.      Rancangan suatu program,
c.       Penerapan serangkaian pengalaman yang berhubungan dan
d.      Peralatan dalam evaluasi proses ini.
Secara singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan (Taba, 1962:6). Pengembangan kurikuum mengacu pada tiga unsur, yaitu:
a.       Nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan manusia  seutuhnya;
b.      Akta emperik yang tercermin dari pelaksanaan kurikulum, baik berdasarkan penilaian kurikulum, studi, maupun survei lainnya; dan
c.       Landasan teori yang menjadi arahan pengembangan dan kerangka penyorotnya (Depdikbud, 1986:1)
-          Landasan Filosofis. 
-          Landasan Sosial-Budaya-Agama.
-          Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni.
-          Landasan Kebutuhan Masyarakat
-          Landasan Perkembangan Masyarakat.
BAB II
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, atau keinginan untuk merubah suatu kebiasaan yang belum maju ke arah lebih maju. Sementara pembelajaran adalah kegiatan timbal balik antara yang siswa dengan guru atau guru dengan siswa. Pembelajaran memberikan kesan saling belajar, saling berdiskusi dan saling memberi. Dengan kemajuan teknologi, boleh jadi anak didik tahu materi pelajaran yang mungkin belum diketahui oleh guru maka guru boleh juga bertanya kepada siswa atau meminta penjelasan dari siswa, juga sebaliknya sebagai tugas guru adalah mengajar (materi yang sesuai dengan tuntunan kurikulum pendidikan guna untuk memberikan pengetahuan baru kepada siswa). Selanjutnya, belajar merupakan kegiatan orang sehari‑hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar, dan dapat diamati oleh orang lain. Belajar yang dihayati oleh anak didik dan ada hubungannya dengan usaha pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik/guru. Pada satu sisi, belajar yang dialami oleh anak didik  terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang.
Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan:
-          Perhatian dan motivasi,
-          Keaktifan,
-          Keterlibatan langsung/berpengalaman,
-          Pengulangan,
-          Tantangan,
-          Balikan dan penguatan, serta
-          Perbedaan individual.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal:
a.    Faktor internal
-          Factor fisiologis: keadaan tonus jasmani, keadaan fungsi jasmani/fisiologis
-          Factor psikologis : kecerdasan /intelegensia siswa, Motivasi, Minat, Sikap, Bakat

b.    Faktor eksternal
-          Lingkungan social: Lingkungan social sekolah, Lingkungan social massyarakat, Lingkungan social keluarga. 
-          Lingkungan nonsosial: Lingkungan alamiah, Factor instrumental, Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa)


DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Yasin, Fatah. 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN-Malang Press
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz
Buzan, T., dan Buzan, B. 2003. The Mind Map Book. London: BBC Worldwide Limited.

Dimyati, dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ferris, R. W. 1990. Renewal in Theological Education: Stragies for Change. New York: Billy Graham
Omar Hamalik.2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Bumi Aksara


{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment